salju

Kamis, 15 Desember 2016

sosiologi




SOSIALISASI DAN ARAH KEHIDUPAN
Makalah
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah  : Sosiologi
Dosen Pengampu : Suprihatiningsih,S.Ag,.M.Si

lambang uin

Disusun Oleh :


Jadi supriyo                           (1501046015)
Ainurrika nadhifa                 (1501046033)


PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016
BAB I


PENDAHULUAN
A.      Latar belakang

Di dalam kehidupan masyarakat pasti ada nilai-nilai dan norma-norma sosial  sebagai pedoman perilaku anggota-anggota masyarakat demi terciptanya kenyamanan dan ketertiban bersama. Untuk mencapai kenyamanan dan ketertiban bersama, tentunya tidaklah mudah. Perlu adanya musyawarah dan kesepakatan bersama untuk menciptakan suatu aturan dalam kehidupan sosial. Munculnya nilai-nilai dan norma-norma sosial tersebut akibat adanya unsur kesengajaan maupun ketidaksengajaan yang tanpa disadari dilakukan masyarakat dalam berkomunikasi kesehariannya. Perwujudan dari terbentuknya nilai-nilai dan norma-norma sosial dg disengaja, maka peraturan ini sering kita sebut dengan norma sosial. Maka dari itu dengan adanya interaksi antar individu atau kelompok yang menghasilkan sesuatu kesepakatan bersama,hal tersebut  tidak akan terlepas dari kegiatan proses sosialisasi. Oleh sebab itu dengan pentingnya sosialisasi, maka disusunlah makalah ini.

B.       Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian sosialisasi?
2.        Bagaimana peran dan aktivitas melaksanakan sosialisasi?
3.        Bagaimana proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian dalam sosialisasi?
4.        Sebut dan jelaskan agen sosisalisasi?


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian sosialisasi
Sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar bagi seseorang atau sekelompok orang selama hidupnya untuk mengenali pola-pola hidup, nilai-nilai dan norma sosial agar ia dapat berkembang menjadi pribadi yang bisa diterima oleh kelompoknya.
Pengertian sosialisasi menurut para ahli:
a)      Charlotte buehler
Mendefinisikan sosialisasi sebagai proses yang membantu individu-individu untuk belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
b)      Peter berger
Mendefinisikan sosialisasi sebagai proes dimana anak belajar menjadi seseorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
c)      Bruce J. Cohen
Sosialisasi sebagai proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat, untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok.
d)     Karel J. Veger
Sosialisasi sebagai proses belajar mengajar, melalui individu belajar menjadi anggota masyarakat, dimana prosesnya tidak semata-mata mengajarkan pola-pola perilaku sosial kepada individu, tetapi juga individu tersebut mengembangkan dirinya atau melakukan proses pendewasaan dirinya.
e)      Robert M.Z. lawang
Mendefinisikan sosialisasi merupakan proses mempelajari norma, nilai, peran dan semua persyaratan lainya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.

f)       Soerjono soekamto
Sosialisasi merupakan proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai –nilai masyarakat dimana ia menjadi anggota.
g)      M. Sitorus
Sosialisasi merupakan proses dimana seseorang mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai , norma-norma dan kebiasaan yang berlaku untuk berkembang sebagai anggota masyarakat dan sebagai individu (pribadi).
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan hakikat dari sosialisasi itu sendiri yaitu:
1.                  Dalam arti sempit, sosialisasi merupakan seperangkat kegiatan masyarakat yang didalalmnya individu-individu belajar dan diajar memahirkan diri dalam peranan sosialisasi sesuai dengan bakatnya.
2.                  Dalam arti luas, sosialisasi merupakan proses seseorang mempelajari dan menghayati norma-norma kelompok atau “kesatuan kerja” di tempat ia hidup sehingga ia sendiri menjadi seorang pribadi yang unik dan berperilaku sesuai dengan harapn kelompok.[1]
B.     Peran dan Aktivitas melaksanakan Sosialisasi
Aktivitas sosialisasi dikerjakan oleh person-person tertentu yang sadar atu tidak sadar dalam hal ini bekerja mewakili masyarakat. Mereka dapat dibedakan menjadi dua;
1.             Person-person yang mempunyai wibawa dan kekuasaan atas individu-individu yang disosialisasi. Misal ayah, ibu, guru, atasan, pimpinan dan sebagainya
2.             Person-person yang mempunyai kedudukan sederajat dengan individu yang tengah disosialisasi. Misal saudara sebaya, kawan sepermainan, kawan sekelas, dan sebagainya.
Berbeda halnya dengan sosialisasi yang dilakukan oleh person-person yang sederajat, person-person yang mempunyai wibawa dan kuasa selalu mengusahakan tertanamnya pemahaman-pemahaman atas norma-norma sosial( kedalam ingatan dan batin-batin individu yang disosialisasi) dengan melakukan secara sadar, serta dengan tujuan agar individu-individu yang disosialisasi itu dapat dikendalikan secara disipliner di dalam masyarakat. Adapun norma-norma sosial yang mereka sosialisasikan adalah norma-norma sosial yang mengandung keharusan-keharusan untuk taat terhadap kewajiban-kewajiban dan berkesediaan untuk tunduk terhadap kekuasaan-kekuasaan yang superior, berwibawa dan patut dihormati. Sosialisasi demikian ini sedikit-banyak dilakukan secara dipaksakan, dan di dukung oleh suatu kekuasaan yang bersifat otoriter itulah sebabnya maka sosialisasi ini disebut dengan “sosialisasi otoriter”. 
Sementara itu, dilain pihak proses sosialisasi pun dilakukan dengan cara yang lain atau tidak secara otoriter melainkan atas dasar asas kesamaan dan kooperasi antara mensosialisasi dan yang disosialisasi. Proses ini disebut “proses sosialisasi ekualitas”. Sosialisasi ekualitas dilakukan oleh person-person yang memiliki kedudukan yang sederajat (atau kurang lebih sederajat) dengan mereka yang disosialisasi, dan walaupun di dalam proses sosialisasi ini diusahakan juga tertanamnya pemahaman atas norma-norma sosial ke dalam ingatan-ingatan individu-individu yang disosialisasi, akan tetapi tujuan utamanya adalah agar individu yang disosialisasi itu dapat diajak memasuki suatu hubungan kerjasama yang koordinatif kooperatif dengan pihak yang mensosialisasi.[2]

C.     Proses Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian
Manusia tidak pernah lepas dari penilaian orang lain. Seringkali kita mendengar pendapat orang mengenai perilaku seseorang baik ataupun buruk. Orang mengartikan sikap dan perilaku sebagai kepribadian (personality) seseorang. Namun, sebenarnya sikap dan perilaku yang disebutkan itu hanya sebagian kecil dari kepribadiaan seseorang.
Menurut yinger, kepribadian adalah keseluruhan perilaku seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Ungkapan sistem kecenderungan tertentu tersebut menyatakan bahwa setiap orang mempunyai cara berperilaku yang khas,seperti sikap, bakat, adat, kecakapan, kebiasaan, dan tindakan yang sama setiap hari. Dan interaksi yang dengan serangkaian situasi tersebut menyatakan bahwa perilaku merupakan produk gabungan dari kecenderungan perilaku seseorang dan situasi perilaku yang dihadapi seseorang.
Istilah kepribadian dalam sosiologi dapat dikenal dengan sebutan diri(self). Sosialisasi bertujuan untuk membentuk diri seseorang agar dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat dimana ia tinggal.  Ketika manusia lahir ia belum mempunyai diri(self). Diri manusia berkembang tahap demi tahap melelui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Setiap anggota baru dalam masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada delam masyarakat. hal ini merupakan suatu proses yang disebut role talking (pengambilan peran) . dalam proses ini, seseorang belajar mengetahui peran apa yang harus dijalankan dirinya dan peran apa yang dijalankan orang lain.
George Herbert Mead mengembangkan  tiga tahap perkembangan diri manusia. Ketiga tahap itu adalah sebagai berikut:
1)        The prepatory stage ( tahap persiapan)
Selama masa prepatory stage anak-anakakan meniru orang yang ada disekitarnya ,terutama anggota keluarganya dimana mereka terus berinteraksi.seorang anak kecil memukul potongan kayu jika orang tuanya melakukan aktifitas pertukangan,atau akan melempar bola jika sodara yang lebih tua melakukan hal tersebut didekatnya. Anak-anak menjadi lebih mahir menggunakan simbol,termasuk gerak tubuh dan kata-kata yang membentuk dasar komunikasi manusia.dengan berinteraksi  bersama keluarga dan orang disekitarnya ,anak molai mengerti simbol pada massa preparatory stage. Mereka akan terus menggunakan bentuk komunikasi sepanjang dirinya hidup.[3]
2)        Play stage(tahapan bermain)
Dalam tahap ini , seorang anak kecil akan molai belajar mengambil peran orang-orang  yang berada disekitarnya. Ia mulai meniru peran yang dijalankan oleh orang tuanya dan orang yang berinteraksi denganya. Pengambilan peran(role talking0 adalah proses asumsi mental dari perspektif orang lain dan merespon dari pandangan tersebut. Contoh, kita sering melihat anak kecil bermain menjadi polisi atau menjadi dokter . pada tahap ini seorang anak belum sepenuhnya memahami maksud peran yang ia lakukan. Ia belum mengetahui mengapa polisi menangkap penjahat atau dokter memyuntik pasien.[4]
3)        Game stage( tahap permainan)
Pada tahap ini seorang anak tidak hanya mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetepi telah mengetahui peran orang lain dengan siapa dia berinteraksi. Anak tersebut sudah menyadari peran yang ia jalankan dan peran yang dijalankan orang lain. contohnya, dalam permainan sepak bola ia menyadari adanya peran sebagai wasit, kipper, dan penjaga garis.
Mead menggunakan istilah Generalized others yang mengacu pada sikap, pandangan, dan ekspetasi masyarakat sebagai sebuah kesatuan yang disertakan oleh seorang anak dalam sikap dan perilakunya . Pada tahap ini anak telah mampu mengambil peran orang lain lebih luas (generalized others), tidak sekedar orang-orang terdekatnya( significant others). Ia telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peran dirinya dan peran orang lain. Contohnya, sebagai sebagai siswa ia memahami peran guru, sebagai anak ia memahami peran orang tua. Jika anak telah mencapai tahap ini maka ia telah mempunyai suatu diri.Jadi, diri seseorang terbentuk melalui interaksi dengan orang lain dalam interaksi tersebut ia mengalami proses sosialisasi.
Seperti halnya Mead, Charles Harton Cooley pun menyatakan bahwa konsep diri seseorang berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Diri adalah identitas tersendiri yang memisahkan diri kita dengan orang lain. Cooly menyatakan bahwa diri seseorang memantulkan apa yang dirasakan sebagai tanggapan masyarakat terhadapnya. Diri seseorang yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini disebut sebagai looking –glass self.[5]
D.    Agen- Agen Sosialisasi
Sosialisasi tidak akan berjalan tanpa adanya media atau agen sosialisasi. Adapun media sosialisasi yang otomatis memiliki peran tersebut adalah lembaga sosial. Lembaga sosial adalah alat yang berguna untuk melakukan serangkaian peran untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma sosial. Lembaga sosial tersebut adalah keluarga, lembaga pendidikan, lembaga politik, media massa, lembaga keagamaan,  dan lingkungan sosial. Antara lembaga satu dengan lembaga lainnya dalam kehidupan sosial tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam jaringan sistem yang sering disebut sistem sosial. Lembaga-lembaga yang saling berhubungan tersebut memerankan sebagai agen sosialisasi atau media sosialisasi. Beberapa agen sosialisasi dalam dalam sosiologi;
1.    Keluarga
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap sosialisasi. Hal ini dimungkinkan sebab  berbagai kondisi keluarga; pertama, keluarga merupakan kelompok primer yang selalu bertatap muka diantara anggotanya. Kedua, orang tua memiliki kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya, sehingga menimbulkan hubungan emosional yang hubungan ini sangat memerlukan proses sosialisasi. Ketiga, adanya hubungan sosial yang tetap, maka dengan sendirinya orang tua memiliki peranan yang penting terhadap proses sosialisasi terhadap anak
Dalam proses sosialisasi di dalam lingkungan keluarga tertuju pada keinginan orang tua untuk memotivasi kepada anak agar mempelajari pola perilaku yang diajarkan keluarganya. Adapun bentuk dari motivasi itu sendiri apakah bersifat koersif atau paticipative tergantung pada tipe keluarga tersebut, mengingat model yang di gunakan oleh masing-masing keluarga didalam melakukan sosialisasi ada yang bertipe otoriter dan ada yang bertipe demokratis.[6]
2.    Kelompok Bermain
Kelompok bermain baik yang berasal dari kerabat, tetangga maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola-pola perilaku seseorang. Di dalam kelompok bermain, anak mempelajari berbagai kemampuan baru yang acapkali berbeda dengan apa yang mereka pelajari dari keluarganya.
Di dalam kelompok bermain individu mempelajari norma nilai, kultural, peran, dan semua persyaratan lainnya yang di butuhkan individu untuk memungkinkan partisipasinya yang efektif di dalam kelompok permainannya. Singkatnya, kelompok bermain ikut menentukan dalam pembentuksn sikap untuk berperilaku dengan perilaku kelompoknya.
Berbeda dengan pola sosialisasi dalam keluarga yang umumnya bersifat otoriter karena melibatkan hubungan yang tidak sederajat, di dalam kelompok bermain pola sosialisasinya bersifat ekualitas karena kedudukannya para pelaku relatif sederajat. [7]

3.    Sekolah
Sekolah merupakan media sosialisasi yang lebih luas dari keluarga. Sekolah mempunyai potensi yang pengaruhnya cukup besar dalam pembentukan sifat dan perilaku seorang anak, serta mempersiapkannya untuk penguasaan peranan-peranan baru dikemudian hari dikala anakatau orang tidak lagi menggantungkan hidupnya pada orang tua atau keluarganya.
Berbeda dengan sosialisasi dalam keluarga dimana anak masih mengharap bantuan dari orang tua dan seringkali perlakuan khusus di sekolah anak dituntut untuk bersikap mandiri dan senantiasa memperoleh perlakuan yang tidak berbeda dari teman-temannya. Di sekolah reward (penghargaan) akan diberikan kepada anak yang terbukti mampu bersaing dan menunjukkan prestasi akademik yang baik. Di sekolah anak juga akan banyak belajar bahwa untuk mencapai prestasi yang baik, maka yang perlu dilakukan adalah bekerja keras. Kurikulum pelajaran di sekolah yang relatif beragam, semuanya menuntut kegigihan sendiri-sendiri. Seorang siswa yang berhasil memperoleh nilai yang baik dalam mata pelajaran sosiologi, misalnya, ia belum tentu memperoleh pujian yang sama dalam mata pelajaran lain.
Secara rinci, Robert Dreeben (1968) mencatat beberapa hal yang dipelajari anak di sekolah selain membaca, menulis, dan berhitung adalah aturan mengenai kemandirian, prestasi, Universalisme, dan spesifitas.[8]
4.    Media Massa
Dalam kehidupan masyarakat modern, komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting terutama untuk menerima dan menyampaikan informasi dari suatu pihak ke pihak lain. Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi tentang peristiwa-peristiwa, pesan, pendapat, berita, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya dengan mudah diterima oleh masyarakat sehingga media massa, surat kabar, TV, film,radio, majalah dan lainnya mempunyai peranan penting dalam proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma baru kepada masyarakat. Disamping itu media massa juga mentransformasikan simbol-simbol atau lambang tertentu dalam suatu konteks emosional.
Media massa merupakan media sosialisasi yang kuat dalam  membentuk keyakina-keyakinan baru atu mempertahankan keyakinan yang ada. Bahkanproses sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari media sosialisasi lainnya. Iklan-iklan yang ditayangkan i media massa misalnya, disinyalir telah menyebabkan terjadinya perubahan pola konsumsi, bahkan gaya hidup warga masyarakat.
Tayangan adegan kekerasan dan adegan-adegan yang menjurus ke porografi, ditengarai juga telah banyak berperan menyulut perilaku agresif remaja, dan menyebabkan terjadinya pergeseran moral pergaulan, serta meningkatkan terjadinya berbagai pelanggaran norma susila. Di media massa, nyaris setiap hari bisa dibaca terjadinya kasus-kasu perkosaan dan pembunuhan yang menghebohkan karena si pelaku ilhami oleh adegan-adegan porno dan sadis yang pernah ditontonnya di film atau ditayangan yang lain.[9]
5.    Kelompok atau Lingkungan Sosial
Yang dimaksud dengan lingkungan sosial adalah tempat atau suasana sekelompok orang merasa sebagai anggotanya, seperti lingkungan kerja, lingkungan RT, lingkungan pendidikan, pesantren dsb. Misalnya seseorang yang berstatus sebagai eks pengguna narkoba. Pada masa sebelumnya ia berada dalam lingkungan anak-anak pengguna narkoba. Jika seorang anak yang pada mulanya adalah anak baik-baik (bukan pengguna narkoba), kemudian memasuki wilayah lingkungan tersebut, maka secara otomatis dia akan tersosialisasi oleh pola-pola perilaku para pengguna narkoba. Demikian pula dengan para mantan pengguna narkoba yang kemudian dimasukkan ke lingkungan pesantren oleh orangtuanya. Dia secara otomatis, mau apa tidak, pasti tersosialisasi oleh pola-pola perilaku yang berlaku di dalam lingkungan kepesantrenan.
Di lingkungan manapun seseorang pasti akan tersosialisasi dengan tata aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Di dalam lingkungan kerja, seseorang akan tersosialisasi oleh pola-pola yang berlaku di lingkungan kerja tersebut, misalnya dia harus menjalankan peran sesuai dengan status atau kedudukannya di dalam lingkungan tersebut. Peran seorang direktur dan seorang supervisor tentunya tidak sama, peran seorang kepala sekolah tidak sama dengan peran seorang guru. Semua peran tersebut merupakan hasil sosialisasi secara tidak langsung dalam masing-masing lingkungan sosial dimana seseorang beranda.   
Kepribadian manusia sangat memiliki hubungan dengan tipe kelompok di mana individu tersebut berada. Adapun tipe-tipe kelompok sendiri sangat beragam. Misalnya kelompok masyarakat modern memiliki kultur yang heterogen tentunya berbeda dengan kelompok masyarkat tradisional cenderung memiliki kultur yang homogen. Struktur masyarakat tersebut biasanya menghasilkan bentuk kepribadian anggota-anggota kelompok yang berbeda pula. Cara masyarakat modern dan masyarakat tradisional mengajarkan nilai-nilai sosial dapat dilihat dari kepribadian dari kedua tipe kelompok masyarakat tersebut. Kepribadian masyarakat modern cenderung lebih bersifat luwes dalam menerima setiap perubahan cultural, sedangkan kelompok masyarakat tradisional biasanya lebih bersifat konservatif.[10]
           
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar bagi seseorang atau sekelompok orang selama hidupnya untuk mengenali pola-pola hidup, nilai-nilai dan norma sosial agar ia dapat berkembang menjadi pribadi yang bisa diterima oleh kelompoknya.

 Aktivitas sosialisasi dikerjakan oleh person-person tertentu yang sadar atu tidak sadar dalam hal ini bekerja mewakili masyarakat. Mereka dapat dibedakan menjadi dua;
§  Person-person yang mempunyai wibawa dan kekuasaan atas individu-individu yang disosialisasi. Misal ayah, ibu, guru, atasan, pimpinan dan sebagainya
§  Person-person yang mempunyai kedudukan sederajat dengan individu yang tengah disosialisasi. Misal saudara sebaya, kawan sepermainan, kawan sekelas, dan sebagainya.
George Herbert Mead mengembangkan  tiga tahap perkembangan diri manusia. Ketiga tahap itu adalah sebagai berikut:
§  The prepatory stage ( tahap persiapan)
§  Play stage (tahapan bermain)
§  Game stage (tahap permainan)
§  Generalized others (menurut Mead)
Beberapa agen sosialisasi dalam dalam sosiologi;
¨        Keluarga
¨        Kelompok bermain
¨        Sekolah
¨        Media massa
¨        Lingkungan sosial



Daftar Pustaka
Elly M.setiadi & Usman kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta : kencana Prenadamedia _____________Group, 2011)

J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, _____________(Jakarta; Prenada MediaGroup)

Kun maryati & juju suryawati,S.Pd, sosiologi (Jakarta; exsis ,2001)

Richard T.Schaefer) , sosiologi (sociology), (Jakarta selatan; selemba humanika, _____________2010)






[1]  Elly M.setiadi & Usman kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta : kencana Prenadamedia Group, 2011), hal. 155-157
[2]J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta; Prenada Media Group), hal. 77-79
[3] Richard T.Schaefer) , sosiologi (sociology (Jakarta selatan, selemba humanika, 2010), hlm. 92
[4] Dra.kun maryati & juju suryawati,S.Pd, sosiologi (Jakarta, exsis ,2001),  hlm. 99
[5] Ibid. hlm. 99-100

[6] Elly M.setiadi & Usman kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta : kencana Prenadamedia Group, 2011) hlm. 177

[7] . Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta; Prenada Media Group), hal. 94

[8]Ibid,. Hal. 94-95
[9] Ibid,. Hal. 96
[10]Opcid,. Hal. 181

Tidak ada komentar:

Posting Komentar