salju

Selasa, 13 Desember 2016

TEKNIK PENYUSUNAN TEKS PIDATO

TEKNIK PENYUSUNAN TEKS PIDATO
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :retorika
Dosen Pengampu : Dra. Hj . Jauharotul Farida,.M.Ag











Disusun Oleh :
Nandi setiawan                       (1501046004)
Elya sukmawati                       (1501046032)
Ainurrika Nadhifa                   (1501046033)


PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
pidato pidato adalah penyampaian dan penanaman pikiran, informasi atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai. pidato biasanya disampaikan secara lisan dalam acara- acara resmi , seperti peringatan hari bersejarah , perayaan hari-hari besar atau pembukaan suatu kegiatan.[1]
pidato dilakukan dengan empat cara, yaitu membaca naskah (manuskrip), menghapal (memoriter), spontanitas (impromptu), dan menguraikan kerangka (ekstemporer).[2] bila berpidato dengan menggunakan naskah, maka harus disiapkan naskah tersebut terlebih dahulu. dengan demikian, keterampilan menulis naskah pidato diperlukan mempersiapkan naskah adalah salah satu aspek penting yang dilakukan sebelum berpidato. diantara fungsi tersebut ialah agar pidato lebih  sistematis, teratur, dan efektif. begitu pentingnya pembuatan naskah, oleh karena itu, disini akan membahas lebih jauh mengenai devinisi pidato, Jenis-jenis pidato dan teknik penyusunan teks pidato.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa devinisi pidato?
2.       Apa saja Jenis-jenis pidato?
3.      Bagaimana teknik penyusunan teks pidato ?









BAB II
PEMBAHASAN

1.      DEVINISI PIDATO
pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. [3]
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Pidato juga berarti kegiatan seseorang yang dilakukan di hadapan orang banyak dengan mengandalkan kemampuan bahasa sebagai alatnya.
Berpidato pada dasarnya merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata (lisan) yang ditujukan kepada orang banyak dalam sebuah forum. Seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.
Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan orasi-orasi, dan pernyataan tentang suatu hal atau peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan.[4]
Menurut Emha Abdurrahman dalam bukunya tehnik dan pedoman berpidato, pidato adalah penyampaian uraian secara lisan tentang sesuatu hal (masalah) dengan mengutarakan keterangan sejelas-jelasnya di hadapan massa atau orang yang banyak pada suatu waktu tertentu.
Menurut  KBBI naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan yang belum diterbitkan,Suatu naskah atau manuskrip (bahasa Latin manuscript: manu scriptus ditulis tangan), secara khusus, adalah semua dokumen tertulis yang ditulis tangan, dibedakan dari dokumen cetakan atau perbanyakannya dengan cara lain. Kata 'naskah' diambil dari bahasa Arabnuskhatum yang berarti sebuah potongan kertas.[5]


Fungsi Pidato
Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1)      Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan yang disarankan  dengan suka rela,
2)      Menyampaikan informasi dan atau suatu pemahaman kepada pendengarnya,
3)      Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang disampaikan,
4)      Mendidik,
5)      Propaganda,
6)      Penyambung lidah seseorang.
 Dengan melihat beberapa fungsi pidato diatas maka seseorang dapat dengan lebih jelas menentukan sikap pada saat akan atau ketika sedang berpidato, bahkan dengan mengetahui manfaat tersebut seseorang yang berpidato dapat mengukur sendiri, apakah pidato yang dibawakannya itu berhasil ataukah gagal.
2.      JENIS-JENIS PIDATO
Jenis pidato ditentukan oleh beberapa faktor seperti situasi, tempat, tujuan dan isi pembicaraan. Faktor-faktor yang menjadi patokan untuk menentukan jenis pidato adalah:
1.      Bidang Politik
Dunia politik seringkali menuntut adanya pidato yang bersifat politis. Pendengar pidato politis pada umumnya adalah massa rakyat. Tujuan pidato ini bukan mengajar, tetapi mempengaruhi, bukan meyakinkan tetapi membakar semangat. Jenis pidato politis yang lazimnya dibawakan adalah pidato kenegaraan, pidato parlemen, pidato pada perayaan nasional, pidato pada kesempatan demonstrasi, dan pidato kampanye. Pidato-pidato politis umumnya panjang dan dapat dibawakan langsung di hadapan massa atau dapat juga melaui media komunikasi seperti radio dan televisi.
2.      Kesempatan Khusus
Ada banyak kesempatan atau pertemuan tidak resmi, di mana orang harus membawakan pidato. Suasana pertemuan semacam ini umumnya akrab, sebab para peserta sudah saling mengenal, misalnya pertemuan keluarga, sidang organisasi dan sidang antara para anggota dan pimpinan perusahaan. Bentuk pidato yang dibawakan biasanya disebut Kata Sambutan. Lamanya antara 3 sampai 5 menit. Pidato atau sambutan ini lebih diarahkan untuk menggerakkan hati dan bukan pikiran pendengar. Sasaran utamanya adalah perasaan bukan pengertian.
Jenis-jenis pidato yang dibawakan pada kesempatan ini adalah pidato ucapan selamat datang, pidato untuk memberi motivasi, pidato ucapan syukur, pidato pembukaan, dan pidato penutup.
3.      Kesempatan Resmi
Dalam kehidupan bermasyarakat sering diselenggarakan berbagai pertemuan karena alasan-alasan resmi. Para peserta yang hadir adalah para pejabat, para pembesar, atau orang-orang terkemuka yang datang dalam suasana formal. Bentuk pidato pada kesempatan ini juga disebut Kata Sambutan. Dalam kesempatan resmi, pidato atau sambutan yang dibawakan seharusnya singkat, meskipun disampaikan secara bebas. Sasarannya lebih untuk menggerakkan perasaan dan bukan untuk menanamkan pengertian rasional.
Jenis-jenis pidato yang diucapkan pada kesempatan ini adalah pidato Hari Ulang Tahun (HUT), pidato pernikahan, pidato perpisahan, dan pidato pelantikan.
4.      Pertemuan Informatif
Dalam hubungannya dengan pembinaan, sering diselenggarakan pertemuan-pertemuan informatif. Maksudnya adalah pertemuan dalam kelompok-kelompok kecil atau besar, baik dalam dunia pendidikan, maupun dalam bidang kehidupan lain. Pidato ini memiliki maksud untuk memberi dan membagi informasi atau untuk membahas suatu masalah secara ilmiah.
Pidato yang dibawakan pada kesempatan ini bersifat sungguh-sungguh, ilmiah, objektif, dan rasional. Konsentrasi pembeberannya lebih pada penalaran rasional. Jenis-jenis pidato informatif ialah kuliah, ceramah, presentasi makalahm pengajaran, dan wejangan informatif. Wejangan informatif  ialah ceramah yang santai di depan sekelompok pendengar dalam jumlah kecil. Bentuk ini sering dipakai apabila menunjukkan slides atau film. Gambar atau film menjadi pokok pembicaraan, sehingga tidak menuntut suatau persiapan yang teliti.[6]
Berdasarkan sifat dan Isi Pidato, jenis-jenis Pidato dibedakan atas:
a.       Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc (master of ceremony).
b.      Pidato Pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
c.        Pidato Sambutan adalah pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
d.       Pidato Peresmian adalah pidato yang dilakukan oleh seseorang yang berpengaruh ketika akan meresmikan sesuatu.
e.        Pidato Laporan adalah pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
f.          Pidato Pertanggungjawaban adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban terhadapa suat kegitan tertentu.

Berdasarkan ada tidaknya persiapan yang dilakukan sebelum melakukan pidato, jenis-jenis pidato dibedakan atas:
a.       Pidato Impromptu (serta merta) yaitu pidato yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa persiapan sebelumnya. Misalkan apabila seseorang menghadiri pesta dan tiba-tiba dipanggil untuk menyampaikan pidato maka pidato yang disampaikan itu adalah pidato jenis impromptu.
b.       Pidato Manuskrip yaitu pidato dengan naskah. Di sini tidak berlaku istilah ‘menyampaikan pidato’ tapi ‘membacakan pidato’. Karena pembicara akan membacakan pidato dari awal sampai akhir. Jenis pidato ini sangat perlu dilakukan, jika isi pidato yang akan disampaikan tidak boleh terdapat kesalahan. Misalnya, ketika seseorang diminta untuk melaporkan keadaan keuangan, berapa pemasukan, dari mana saja sumbernya, dan berapa pengeluaran serta untuk apa uang dikeluarkan, orang tersebut perlu menuliskannya dalam bentuk naskah dan baru kemudian membacakannya. Manuskrip juga sangat  dibutuhkan oleh tokoh nasional, sebab kesalahan sedikit saja dapat menimbulkan kekacauan nasional.
c.         Pidato Memoriter yaitu pesan pidato yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian dihapalkan kata demi kata.
d.       Pidato Ekstemporan yaitu pidato yang telah dipersiapkan sebelumnya berupa garis-garis besar (outline) dan pokok penunjang pembahasan (supporting points), tetapi pembicara tidak berusaha mengingatnya kata demi kata. Pidato jenis ini adalah pidato yang paling baik dan paling sering digunakan oleh pembicara yang telah mahir dan berpengalaman. Out-line hanya merupakan pedoman untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran pembicara.[7]
3.      TEKNIK PENYUSUNAN TEKS PIDATO
Teknik atau Cara Menulis Naskah Pidato
Sebelum menyusun naskah pidato, yang harus diperhatikan ialah bahan pidato yang akan dibahas. Memilih bahan yang tepat dimaksudkan untuk menyesuaikan materi dengan situasi dan kondisi saat pidato berlangsung.[8]menulis naskah pidato harus melalui tiga kegiatan yaitu, mengumpulkan bahan, membuat kerangka, dan menguraikan isi naskah pidato secara terperinci. Penjelasannya adalah sebagai berikut.
a.Mengumpulkan Bahan
bahan-bahan menulis pidato dapat diperoleh dari Buku-buku, perturan-peraturan, majalah-majalah, dan surat kabar merupakan sumber informasi yang kaya yang dapat digunakan sebagai bahan dalam rangka menguraikan isi pidato.
b.Membuat Kerangka Pidato
Kerangka dasar dapat dibuat sebelum mencari bahan-bahan, yaitu dengan menentukan pokok-pokok yang akan dibicarakan, sedangkan kerangka yang terperinci baru dapat dibuat setelah bahan-bahan selesai kumpulkan. Dengan bahan-bahan itu dapat menyusun pokok-pokok yang paling penting dalam tata urut yang baik. Contoh Kerangka Pidato.Inti dari kerangka pidato adalah: (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup
1)      Pendahuluan: bagian pendahuluan memuat salam pembuka, ucapan terima kasih (bila ada yang diberi ucapan), dan kata pengantar untuk menuju kepada isi pidato;
2)      Isi: bagian ini memuat uraian pokok yang terdiri atas topik atau pokok utama dan sub-subtopik yang memperjelas atau menghubungkan dengan topik utama;
3)      Penutup: bagian penutup memuat kesimpulan, harapan (bila ada), dan salam penutup.
c.Menguraikan isi pidato
Dengan menggunakan kerangka yang telah dibuat, ada dua hal yang harus dilakukan: (1) dapat mempergunakan kerangka tersebut untuk berpidato, yaitu berpidato dengan menggunakan metode ekstemporan, dan (2) menulis atau meyusun naskah pidato secara lengkap yang dibacakan atau dihafalkan.
d.    Struktur Isi Pidato
Struktur isi pidato adalah rangkaian isi pidato dari awal hingga akhir. Rangkaian ini disusun agar pidato berlangsung menarik dan tujuan pidato tercapai dengan baik. Ada beberapa cara merangkai isi pidato, antara lain: (1) mengikuti alur dasar pidato, dan (2) mengikuti pola organisasi pidato.
 Alur dasar pidato, yaitu rangkaian isi pidato yang mengikuti alur dasar pidato yang bergerak melalui tiga tahap: (a) tahap perhatian, yaitu tahap pertama yang dilakukan pembicara dengan baik; (b) tahap kebutuhan, yaitu tahap yang dilakukan pembicara dalam menjelaskan pentingnya masalah yang akan dibicarakan sehingga pendengar akan berusaha memahami masalah atau hal-hal penting yang disampaikan pembicara. (c) tahap penyajian, yaitu merupakan tahap pembicara menyajikan materi pidato yang telah dipersiapkan melalui naskah kerangka pidato.[9]
e.       Menyunting Naskah Pidato
Seperti halnya naskah makalah atau artikel, naskah pidato pun perlu disunting. Baik isi, bahasa, maupun penalarannya. Isi naskah perlu dicermati kembali naskah itu telah sesuai tidaknya dengan tujuan pidato, calon pendengar, dan kegiatan yang digelar. Selain itu isinya juga harus dipastikan apakah benar, representatif, dan mengandung informasi yang relevan dengan konteks pidato.
Sementara itu penyuntingan teradap bahasa diarahkan pada pilihan kosa kata, kalimat, dan satuan-satuan gagasan dalam paragraf menjadi perhatian utama dalam kegiatan penyuntingan ini. Penalaran dalam naskah pidato juga perlu disunting untuk memastikan apakah isi dalam naskah pidato telah dikembangkan dengan menggunakan penalaran yang tepat, misalnya dengan pola induktif, deduktif, dan campuran.
f.       Menyempurnakan Naskah Pidato
Setelah disunting, baik oleh penulis sendiri maupun orang lain, perlu dilakukan tindak lanjut berupa penyempurnaan naskah. Penyempurnaan itu diarahkan pada aspek isi, bahasa, dan penalarannya sebagaimana yang telah disunting di atas. Penyempurnaan aspek bahasa dilakukan dengan mengganti kosakata yang lebih tepat dan menyempurnakan kalimat dengan memperbaiki struktur dan gagasannya. Sementara itu, penyempurnaan paragraf dilakukan dengan memperbaiki koherensi dan kohesi paragraf. Untuk itu penambahan kalimat, penyempurnaan kalimat, dan penghilangan kalimat perlu dilakukan.[10]
Pada dasarnya menulis teks pidato, ceramah, atau khitobah itu sama. Berikut teknik menulis pidato saja, beberapa sistematika yang harus diketahui dalam menulis pidato adalah sebagai berikut:
1.      Mencantumkan salam pembuka dan sapaan kepada hadirin.
2.      Memaparkan pendahuluan dalam bentuk ucapan terima kasih atau rasa syukur.
3.      Menggunakan isi atau inti pokok pidato dengan menggunakan kalimat yang lugas dan jelas serta gaya bahasa yang menarik.
4.      Menentukan simpulan isi pidato , sekaligus harapan berbentuk anjuran atau gerakan.
5.      Mencantumkan salam penutup.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimplan
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Pidato juga berarti kegiatan seseorang yang dilakukan di hadapan orang banyak dengan mengandalkan kemampuan bahasa sebagai alatnya, Suatu naskah atau manuskrip (bahasa Latin manuscript: manu scriptus ditulis tangan), secara khusus, adalah semua dokumen tertulis yang ditulis tangan,
Jenis pidato ditentukan oleh beberapa faktor seperti situasi, tempat, tujuan dan isi pembicaraan. Faktor-faktor yang menjadi patokan untuk menentukan jenis pidato adalah: Bidang Politik, Kesempatan Khusus, Kesempatan Resmi, Pertemuan Informatif,
menulis naskah pidato harus melalui tiga kegiatan yaitu, mengumpulkan bahan, membuat kerangka, dan menguraikan isi naskah pidato secara terperinci. Pada dasarnya menulis teks pidato, ceramah, atau khitobah itu sama. teknik menulis pidato saja, beberapa sistematika yang harus diketahui dalam menulis pidato adalah sebagai berikut:
B.     Kritik dan saran

Demikian makalah yang dapat kami buat dan kami sampaikan. Mudah- mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada kesalahan dalam penulisan, ataupun referensi yang kurang benar dalam pembahasan, kami mohon maaf yang sebesar- besarnya. Dan kami menerima saran dan kritikkan dari pembaca demi kebaikan kami untuk selanjutnya. Tiada kesempurnaan bagi kita, kecuali kesempurnaan itu hanya milik Allah semata.






DAFTAR PUSTAKA
Alwisral Imam Zaidallah, , 2002.Strategi Dakwah; Dalam Membentuk Da’i dan Khotib Profesional, .Jakarta: Kalam Mulia
Dinna Ferdianti, 2005. Cendekia Berbahasa, Jakarta:Grafindo Media Pratama,
Dori Wuwur Hendrikus, 1991.Retorika, Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi. Yogyakarta: Kanisius
Jalaluddin Rakhmat, 2004.Retorika Modern Pendekatan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Think smart bahasa Indonesia,(PT. grafindo media pratama, 2006








[1] Think smart bahasa Indonesia,(PT. grafindo media pratama, 2006 )hlm 43
[2] Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 205
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Pidato, diakses pada tanggal 14 desember , jam 17:00.

[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Naskah, diakses pada tanggal 14 desember , jam 18:00.
[6] Dori Wuwur Hendrikus, Retorika, Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 48-50.
[8] Alwisral Imam Zaidallah, Strategi Dakwah; Dalam Membentuk Da’i dan Khotib Profesional, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 83.              

[10] Dinna Ferdianti, Cendekia Berbahasa, (Jakarta:Grafindo Media Pratama, 2005), hlm. 144-145

Tidak ada komentar:

Posting Komentar